Jumat, 21 Agustus 2015

Tahap tahap menyusun karya ilmiah

Tahap Penyusunan Karya Ilmiah


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Menyusun karya ilmiah dengan bahasa yang baik dan benar itu sangat rumit dan menyusahkan, bahkan kebanyakan orang menyusun karya ilmiah sering terbengkalai, karna merasa tidak mampu untuk menyelesaikannya, bahkan untuk mempelajarinya pun kebanyakan asal-asalan, hal inilah yang menyebabkan timbul sebuah anggapan bahwa membuat karya ilmiah itu tidak penting.
Padahal membuat karya ilmiah sangat penting apalagi untuk menyelesaikan kuliah sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar serja. Sebenarnya membuat karya ilmiah tidak susah, yang sangat diutamakan adalah ketekunan dalam memahami langkah-langkah penyusunannya, untuk dapat memahaminya tentu harus mempelajarinya.
Berdasarkan keterangan diatas kami akan menjelaskan berbagai tahapan dalam menyusun seebuah karya ilmiah agar dapat kita terapkan bersama.
2.      Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang diangkat dalam makalah ini mengenai tahapan penyusunan karya ilmiah, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.       Pemilihan topic permasalahan
2.      Penentuan Judul
3.      Pembuatan Kerangka Karangan
4.      Pengumpulan data
5.      Pengorganisasian/Pengonsepan
6.      Pemeriksaan/Penyuntingan
7.      Pengetikan/penyajian
BAB II
PEMBAHASAN
1.        TAHAP PENYUSUNAN KARYA ILMIAH
Pada dasar nya penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahapan :
1.         Persiapan
2.         Pengumpulan
3.         Pengorganisasian dan pengonsepan
4.         Pemeriksaan dan penyuntingan konsep
5.         Pengajian dan pengetikan
          Sedangkan yang termasuk dalam tahap persiapan adalah :
A.      Pemilahan topic/masalah
          Topic/maslah adalah pokok pembicaraan, (Widyamartaya dan Sudiati 1997:31; Sudarmoyo 2000:11; Arifin 2003:8). Misalnya persoalan kemasyarakatan, pertanian, manajemen, sumber daya manusia, kedokteran, teknik, industry, hukum, pariwisata, perhotelan, lingkungan hidup, dan lain sebagainya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam topic yaitu :
1.      Topic yang dipilih harus berada disekitar kita, baik disekitar pengalaman kita maupun disekitar pengetahuan kita.
2.      Tipok yang dipilih harus topic yang menarik perhatian kita.
3.      Topic yang dipilih terpusat pada segi lingkup yang sempit dan terbatas.
4.      Topic yang dipilih memiliki data dan data yang objektif.
5.      Topic yang dipilih harus kita ketahui prinsip-prinsip ilmiahnya, walaupun serba sedikit.
6.      Topic yang dipilih harus memiliki sumber acuan, memiliki bahan kepustakaan yang dapat memberikan informasi tentang pokok masalah yang hendak ditulis.
B.         Pembatasan topic dan penentuan judul
          Penentuan judul dapat dilakukan sebelum atau sesudah penulisan karya ilmiah. Jika sudah ada topic yang terbatas karya ilmiah sudah dapat mulai digarap walaupun judul belum ada.
          Selain dengan pembatasan topic, menurut Arifin (2003:9) penentuan judul karya ilmiah dapat pula ditempuh dengan melontarkan pertanyaan ini adalah :
a.       Mengembang
b.      Melayani
c.       mencemari
          Judul karya ilmiah haruslah berbentuk frasa, bukan berbentuk kalimat. Oleh karena itu, kata-kata tersebut dapat kita jadikan kata benda agar dapat dijadikan judul karya, seperti :
a.       mengembang manjadi pengembangan
b.      melayani menjadi pelayan
c.       mencemari menjadi pencemaran
          Ada kalanya perbatasan judul itu dilakukan dengan memberikan sub judul. Sub judul berfungsi membatasi judul.
C.    Pembuatan kerangka karangan
                 Kerangka karangan disebut ragangan (outline) pada prinsipnya, penyusunan kerangka karya adalah proses penggolongan dan penataan berbagai fakta, yang kadang-kadang berbeda jenis dan sifatnya, menjadi kesatuan yang berpautan (Moeliono 1988:1).
                 Penyusunan karya ilmiah dapat membuat ragaman buram, yakni ragaman yang hanya membuat pokok-pokok gagasan sebagai pecahan dari topic yang sudah dibatasi.
                 Ada yang membuat ragaman karya yaitu ragaman yang sudah merupakan perluasan dari ragaman buram (Arifin 2003:15). Penulis karya ilmiah harus menentukan dahulu judul-judul bab dan judul sub bab sebelum menentukan kerangka karya.
                 Berikut ini adalah contoh ragangan tersebut :
       PENGARUH MOTIVASI DAN KEPEMIMPINAN TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN HOTEL ARRAHMAN TEMBILAHAN
Pengaruh Motivasi dan Kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja.
1.      Manajemen Sumber Daya Manusia
2.      Motivasi
2.1  Pengertian Motivasi
2.2  Teori Motivasi
2.3  Motivasi dan Prilaku
3.      Kepemimpinan
3.1  Tengertian Kepemimpinan
3.2  Teori Kepemimpinan
3.3  Tipe Kepemimpinan
3.4  Fungsi Kepempinan
4.      Kepuasan Kerja
4.1  Pengertian Kepuasan Kerja
4.2  Teori Kepuasan Kerja
4.3  Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
4.4  Manfaat Kepuasan Kerja
4.5  Pengukuran Kepuasan Kerja
Jika ragangan seperti tersebut diatas dianggap selesai, maka langkah berikutnya adalah pembuatan daftar isi yaitu sebagai berikut :
              Kata Pengantar …………………………………………………….
Daftar isi  ………………………………………………………….
BAB I      PENDAHULUAN ……………………………………..
1.        Latar Belakang dan Masalah ………………………
2.        Tujuan Pembahasan ……………………………….
BAB II    PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN….
1.        Pengertian Pengetahuan ………………………….
2.        Pengertian Ilmu Pengetahuan …………………….
              BAB III   KLASIFIKASI DAN ASPEK PENGETAHUAN…
1.        Klasifikasi Ilmu Pengetahuan……………………
2.        Aspek Ilmu Pengetahuan………………………..
              BAB IV   PENUTUP……………………………………………
1.        Kesimpulan ……………………………………..
2.        Kritik dan Saran…………………………………
              DAFTAR PUSTAKA
D.       Pengumpulan data
          Langkah pertama yang harus ditempuh dalam pengumpulan data adalah mencari informasi dari kepustakaan mengenai hal yang ada relevansinya dengan judul tulisannya.
E.       Pengorganisasian/pengonsepan
                 Jika data sudah terkumpul penyusunan menyeleksi dan mengorganisasi data tersebut. Penyusunan harus menggolongkan data menurut jenis, sifat/bentuk.
F.        Pemeriksaan/penuntingan
                 Sebelum mengetik konsep, penyusunan terlebih dahulu memeriksanya secara ringkas, pemeriksaan konsep mencukupi pemeriksaan isi karya dan cara penyajian karya, termasuk penyuntingan bahasa yang digunakan.
G.      Pengetikan/Penyajian
                 Dalam mengetik naskah, penyusun hendaklah memperhatikan segi kerapian dan kebersihan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Dari hasil sajian makalah tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa cara menyusun karya ilmiyah itu melalui berbagai tahapan, diantaranya yaitu:
1.         Pemilihan topic permasalahan yang diangkat dalam sebuah penelitian
2.         Menentukan judul
3.         Pembuatan kerangka karangan,
4.         Mengumpulkan data
5.         Pengorganisasian/pengonsepan
6.         Pemeriksaan/penyuntingan
7.         Pengetikan/penyajian
B.   Kritik
         Apabila dalam penulisan karya ilmiah ini ada terdapat kesalahan penulisan atau kata-kata, maupun kurang pada tempatnya, bagi para pembaca kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. 
C.    Saran
         Bagi para pembaca, kami sarankan bahwa dalam setiap pembuatan sebuah karya ilmiah, harus memperhatikan setiap poin-poin tahapan penyusunan karya ilmiah yang terdapat dimakalah kami ini atau lebih baik nya mencari sumber-sumber yang kuat dalam hal ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Dwiloka,dkk. 2005, teknik menulis karya ilmiah, Jakarta: Rineka cipta.

pensil dan kertas


Pensil dan Kertas

Braaakkk!
Bunyi suara bedebuk terdengar kencang dari dalam kamar Mimy. Tas sekolah Mimy jatuh dari atas meja belajar. Buku-buku dan alat tulis seakan melompat keluar dari tas sekolah. Semuanya jatuh berantakan di lantai.
“Mimy! Mimy!”
“Iya, Ma!”
“Ayo, cepat! Taruh tas sekolah di meja belajar. Lalu, Mimy turun makan ya!”
“Iya, Ma!”
Buk! Mimy menutup pintu kamarnya. Mimy segera turun meninggalkan tas sekolah yang jatuh berantakan.
Kamar Mimy terletak di lantai dua. Kamar Mimy berdinding merah muda. Meja belajar Mimy berwana merah muda. Tempat tidur Mimy juga tertutup rapi dengan seprei berwarna senada. Suasana kamar Mimy kini tampak lengang. Namun, sepuluh menit kemudian. Terdengar suara berisik dari lantai kamar. Ternyata, alat-alat tulis Mimy sedang bercakap-cakap satu dengan yang lain.
“Huh! Kenapa sih Mimy itu? Dia tak pernah menaruh alat belajarnya dengan baik!” Teriak pensil biru dengan kesal.
“Iya! Coba kalau begini terus. Tubuhku kan bisa patah!” Sebuah garisan bergambar kucing yang lucu, menyetujui pendapat pensil.
“Betul! Mimy tidak pernah menghargai dan menjaga alat belajarnya dengan baik!”
“Teman-teman, sebaiknya kalian jangan berburuk sangka dulu kepada yang lain. Mimy mungkin tidak sengaja menjatuhkan tas sekolahnya. Mimy sedang terburu-buru karena dipanggil Ibu.”
“Ah! Kamu tidak usah membela Mimy, kertas! Kamu kan tidak merasakan apa yang kami rasakan. Kamu kan terbungkus rapi didalam plastik!”
“Benar sekali apa yang dikatakan pensil biru, kertas! Coba kamu lihat aku?” Kata penghapus kepada kertas. “Tubuhku yang putih jadi kotor nih.”
“Aku mengerti, penghapus. Aku juga bisa melihatnya. Namun, menurutku…Mimy hari ini sedang terburu-buru.”
“Ah! Mimy selalu bersikap seperti itu. Saat pulang les kemarin sore. Mimy melempar tas belajarnya di atas sofa. Aku jadi terjatuh sehingga ujung pensilku patah!”
“Oh! Mimy harus menjemput Ayah di kantor kemarin sore. Mimy juga terburu-buru karena sudah ditunggu Ibu di mobil.” Kertas bergambar boneka lucu itu menjelaskan dengan sabar.
Sebuah rautan berwarna hijau berdehem sebentar. “Pensil, mungkin benar apa yang dikatakan kertas. Mimy tidak sengaja menjatuhkan kamu. Mimy juga sedang terburu-buru.” Rautan memandang pensil biru di sampingnya. “Kamu bisa menggunakan aku untuk meraut ujung pensilmu yang patah. Betul kan, pensil biru?”
Pensil biru belum sempat menjawab pertanyaan rautan. Ketika itu, pintu kamar terbuka. Mimy masuk sambil membawa bingkisan ditangannya. Mimy menaruh bingkisan tersebut di atas meja belajar. Mimy memungut kembali alat-alat belajarnya yang jatuh berantakan di lantai. Mimy membersihkan penghapus dan meraut ujung pensil yang patah.
Mimy mengambil bingkisan dan membukanya. Sebuah tempat pensil baru berwarna hijau. “Aku membeli tempat pensil baru dari uang jajan pemberian mama yang aku tabung bulan ini.”
Mimy memandang tempat pensil baru terbuat dari bahan kain yang kuat, juga memiliki restleting yang bisa dibuka dan ditutup. “Sekarang, alat tulis aku akan lebih aman dan terlindungi didalam tempat pensil baru.”
Wow! Semua alat tulis yang mendengar dan menyaksikan hal tersebut takjub kepada Mimy. Mereka tak menyangka Mimy telah berkorban begitu banyak. Mimy juga menghargai, menjaga dan melindungi alat-alat tulisnya. Semuanya kini jelas, ketika Mimy mengambil alat tulis satu persatu dan memasukannya di tempat pensilnya yang baru. Mimy menutup restleting tempat pensil barunya dengan lembut.
Saat itu terdengar suara pensil biru berbisik lembut. “Kertas, kamu benar sekali. Kita jangan berprasangka buruk dulu terhadap yang lain. Kita jangan berprasangka buruk dulu kepada Mimy.”
***