-1-
TENTANG AUTISME
“Kak, kamu sudah pernah mendengar
tentang anak penyandang autis?”
“Iya, Ibu!”
Aku menatap Ibu Tania, ibu Dominiq
yang memintaku datang untuk menerapi Dominiq. Hari ini adalah hari pertama aku
datang ke rumah Dominiq, aku diinterview untuk menjadi guru bagi salah seorang
anak yang berumur sekitar tiga tahun. Nama anak tersebut adalah Dominiq.
“Saya pernah mendengar tentang anak
penyandang autis, Ibu! Saya dulu pernah belajar salah satu mata kuliah
psikologi, yang juga menerangkan tentang anak penyandang autis.” Aku mencoba
mengingat salah satu mata kuliah psikologi yang dulu pernah aku pelajari. “Anak
peyandang autis adalah anak yang sibuk dengan dunianya sendiri.”
“Betul, Kak! Anak penyandang autis
adalah anak yang sibuk dengan dunianya sendiri. Anak saya Dominiq adalah anak
penyandang autis!”
“Apa?!” Aku hampir tak percaya kalau
Dominiq adalah anak penyandang autis. Anak laki-laki yang berusia sekitar 3
tahun tersebut, tampak seperti anak-anak umumnya yang sedang menonton televisi.
“Anak saya belum bicara, anak saya
kalau dipanggil seperti tak mendengar. Telinganya juga peka terhadap
suara-suara yang terlalu keras. Anak saya belum memahami perintah. Dominiq juga
berjalannya masih jinjit, senang mondar-mandir sambil melompat. Dominiq belum
bisa bersosialisasi. Dominiq senang bermain mobil-mobilan, namun
mobil-mobilannya hanya diatur, dan dilihat ban mobilnya.”
“Iya, Ibu.” Aku mendengar apa yang
dikatakan ibu Dominiq dengan seksama. “Bagaimana Ibu tahu kalau Dominiq adalah
anak penyandang autis?”
“Dominiq sudah berumur sekitar 2
tahun 6 bulan. Dominiq belum menunjukan perkembangan bicara, perilaku, bermain
dan sosialisasi. Dominiq juga susah tidur dan tidak mau mengunyah makanan
keras. Akhirnya, kami membawa Dominiq ke salah seorang psikiater di Jakarta.
Dominiq didiagnosa anak penyandang autis atau autisme infantil.”
Autisme berasal dari kata auto yang
berarti sendiri. Penyandang autism seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri.
Istilah autisme baru diperkenalkan oleh Kanner sejak tahun 1943.
Perilaku autistik digolongkan dalam
dua jenis, yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan perilaku yang defisit
(berkekukarangan). Beberapa contoh perilaku eksesif adalah hiperaktif dan
tantrum (mengamuk) berupa menjerit, menyepak, menggigit, mencakar, memukul dan
sebagainya. Termasuk yang sering terjadi, anak menyakiti diri sendiri (self
abuse). Perilaku defisit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku social
kurang sesuai (naik ke pangkuan ibu bukan untuk kasih sayang tapi untuk meraih
kue), defisit sensoris sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang
tidak tepat. Misalkan, tertawa tanpa sebab, menangis tanpa sebab dan melamun.
“Kak, anak-anak penyandang autis juga
mengalami peningkatan. Kami mengikuti beberapa seminar tentang autisme, berdasarkan
penelitian ternyata jumlah anak penyandang autisme di Amerika Serikat mengalami
peningkatan. Apakah itu juga terjadi di Indonesia meskipun belum diadakan
penelitian yang intensif seperti di Amerika.”
Aku menatap ibu Tania yang
bersemangat menerangkan kepadaku dan memberikan informasi bagiku tentang anak
penyandang autisme. Aku bisa melihat bagaimana kerinduan hati ibu Tania, untuk
mengajak aku memahami apa yang dipelajari dan dirasakannya kini, agar aku lebih
memahami, mengenal dan membimbing Dominiq nanti.
Melalui Ibu Tania, aku pun mendapat
informasi berupa modul, makalah seminar dan buku-buku tentang anak penyandang
autisme. Sehingga, aku pun lebih tahu, kenal dan memahami anak-anak penyandang
autisme.
Selain, seorang anak dibawa ke dokter
spesialis, psikolog dan psikiater, agar ditegakan diagnosa yang tepat. Berdasarkan criteria ICD-10 1993 (international
Classification Diseases) dari WHO, maupun DSM-IV (Diagnostic and Statistical
Manual) 1994, dari group Psikiatri Amerika, keduanya menetapkan kriteria yang
sama untuk autisme anak.
Dengan mempelajari criteria
diagnostik dari DSM-IV ini, tanpa mengkonsultasikan ke Dokter Spesialis Jiwa
Anak, sebenarnya para orang tuapun bisa mendiagnosis anaknya sendiri apakah
anak tersebut termasuk anak penyandang autisme atau bukan.
Gejala perilaku autisme dapat timbul
sejak lahir dimana anak tidak pernah mengalami perkembangan perilaku normal.
Namun, ada juga anak yang sejak lahir tampak normal dan mengalami hambatan
perkembangan perilaku dan bahkan terjadi kemunduran. Beberapa gejala perilaku
yang perlu diwaspadai orang tua dan dapat dideteksi. Ketika anak usia 30 bulan
belum bicara untuk komunikasi, hiperaktif dan cuek pada orang tua, juga pada
orang lain. Anak tidak bisa main dengan teman sebayanya, serta ada perilaku
aneh yang diulang-ulang.
Bila tampak gejala-gejala perilaku
tersebut terjadi pada anak, segera konsultasikan kepada Dokter Spesialis Jiwa
Anak, Psikolog, Psikiater. Serta, bawalah anak ke institusi atau tempat terapi
yang menangani anak penyandang autisme, supaya dapat segera dideteksi dini dan
mendapat penanganan perilaku yang tepat.
Kriteria DSM-IV untuk Autisma Masa
Kanak :
A. Harus ada sedikitnya 6 gejala dari
(1), (2), dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala
dari (2) dan (3)
(1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial
yang timbal-balik. Minimal harus ada 2 gejala dari gejala-gejala di bawah
ini :
a. Tak mampu menjalin interaksi sosial
yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, eksperesif muka kurang hidup, gerak-gerik
yang kurang tertuju.
b. Tak bisa bermain dengan teman sebaya.
c. Tak dapat merasakan apa yang
dirasakan orang lain.
d. Kurangnya hubungan sosial dan
emosional yang timbal-balik.
(2). Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi
seperti ditunjukan oleh minimal satu dari gejala-gejala dibawah ini :
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang
(dan tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk
komunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang
meniru.
(3) Suatu pola yang dipertahankan dan
diulang-ulang dari perilaku, minat, dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu
dari gejala di bawah ini :
a. Mempertahankan satu minat atau lebih,
dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan yang
ritualistic atau rutinitas yang tak ada gunanya.
c. Ada gerakan-gerakan yang aneh yang
khas dan diulang-ulang.
d. Seringkali sangat terpukau pada
bagian-bagian benda.
B. Sebelum umur 3 tahun tampak adanya
keterlambatan atau gangguan dalam bidang :
a.
Interaksi
sosial
b.
Bicara
dan berbahasa
c.
Cara
bermain yang kurang variatif
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett
atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar