Jumat, 21 Agustus 2015

tentang autisme


-1-
TENTANG AUTISME
“Kak, kamu sudah pernah mendengar tentang anak penyandang autis?”
“Iya, Ibu!”
Aku menatap Ibu Tania, ibu Dominiq yang memintaku datang untuk menerapi Dominiq. Hari ini adalah hari pertama aku datang ke rumah Dominiq, aku diinterview untuk menjadi guru bagi salah seorang anak yang berumur sekitar tiga tahun. Nama anak tersebut adalah Dominiq.
“Saya pernah mendengar tentang anak penyandang autis, Ibu! Saya dulu pernah belajar salah satu mata kuliah psikologi, yang juga menerangkan tentang anak penyandang autis.” Aku mencoba mengingat salah satu mata kuliah psikologi yang dulu pernah aku pelajari. “Anak peyandang autis adalah anak yang sibuk dengan dunianya sendiri.”
“Betul, Kak! Anak penyandang autis adalah anak yang sibuk dengan dunianya sendiri. Anak saya Dominiq adalah anak penyandang autis!”
“Apa?!” Aku hampir tak percaya kalau Dominiq adalah anak penyandang autis. Anak laki-laki yang berusia sekitar 3 tahun tersebut, tampak seperti anak-anak umumnya yang sedang menonton televisi.
“Anak saya belum bicara, anak saya kalau dipanggil seperti tak mendengar. Telinganya juga peka terhadap suara-suara yang terlalu keras. Anak saya belum memahami perintah. Dominiq juga berjalannya masih jinjit, senang mondar-mandir sambil melompat. Dominiq belum bisa bersosialisasi. Dominiq senang bermain mobil-mobilan, namun mobil-mobilannya hanya diatur, dan dilihat ban mobilnya.”
“Iya, Ibu.” Aku mendengar apa yang dikatakan ibu Dominiq dengan seksama. “Bagaimana Ibu tahu kalau Dominiq adalah anak penyandang autis?”
“Dominiq sudah berumur sekitar 2 tahun 6 bulan. Dominiq belum menunjukan perkembangan bicara, perilaku, bermain dan sosialisasi. Dominiq juga susah tidur dan tidak mau mengunyah makanan keras. Akhirnya, kami membawa Dominiq ke salah seorang psikiater di Jakarta. Dominiq didiagnosa anak penyandang autis atau autisme infantil.”
Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Penyandang autism seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri. Istilah autisme baru diperkenalkan oleh Kanner sejak tahun 1943.
Perilaku autistik digolongkan dalam dua jenis, yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan perilaku yang defisit (berkekukarangan). Beberapa contoh perilaku eksesif adalah hiperaktif dan tantrum (mengamuk) berupa menjerit, menyepak, menggigit, mencakar, memukul dan sebagainya. Termasuk yang sering terjadi, anak menyakiti diri sendiri (self abuse). Perilaku defisit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku social kurang sesuai (naik ke pangkuan ibu bukan untuk kasih sayang tapi untuk meraih kue), defisit sensoris sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat. Misalkan, tertawa tanpa sebab, menangis tanpa sebab dan melamun.
“Kak, anak-anak penyandang autis juga mengalami peningkatan. Kami mengikuti beberapa seminar tentang autisme, berdasarkan penelitian ternyata jumlah anak penyandang autisme di Amerika Serikat mengalami peningkatan. Apakah itu juga terjadi di Indonesia meskipun belum diadakan penelitian yang intensif seperti di Amerika.”
Aku menatap ibu Tania yang bersemangat menerangkan kepadaku dan memberikan informasi bagiku tentang anak penyandang autisme. Aku bisa melihat bagaimana kerinduan hati ibu Tania, untuk mengajak aku memahami apa yang dipelajari dan dirasakannya kini, agar aku lebih memahami, mengenal dan membimbing Dominiq nanti.
Melalui Ibu Tania, aku pun mendapat informasi berupa modul, makalah seminar dan buku-buku tentang anak penyandang autisme. Sehingga, aku pun lebih tahu, kenal dan memahami anak-anak penyandang autisme.
Selain, seorang anak dibawa ke dokter spesialis, psikolog dan psikiater, agar ditegakan diagnosa yang tepat.  Berdasarkan criteria ICD-10 1993 (international Classification Diseases) dari WHO, maupun DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994, dari group Psikiatri Amerika, keduanya menetapkan kriteria yang sama untuk autisme anak.
Dengan mempelajari criteria diagnostik dari DSM-IV ini, tanpa mengkonsultasikan ke Dokter Spesialis Jiwa Anak, sebenarnya para orang tuapun bisa mendiagnosis anaknya sendiri apakah anak tersebut termasuk anak penyandang autisme atau bukan.
Gejala perilaku autisme dapat timbul sejak lahir dimana anak tidak pernah mengalami perkembangan perilaku normal. Namun, ada juga anak yang sejak lahir tampak normal dan mengalami hambatan perkembangan perilaku dan bahkan terjadi kemunduran. Beberapa gejala perilaku yang perlu diwaspadai orang tua dan dapat dideteksi. Ketika anak usia 30 bulan belum bicara untuk komunikasi, hiperaktif dan cuek pada orang tua, juga pada orang lain. Anak tidak bisa main dengan teman sebayanya, serta ada perilaku aneh yang diulang-ulang.
Bila tampak gejala-gejala perilaku tersebut terjadi pada anak, segera konsultasikan kepada Dokter Spesialis Jiwa Anak, Psikolog, Psikiater. Serta, bawalah anak ke institusi atau tempat terapi yang menangani anak penyandang autisme, supaya dapat segera dideteksi dini dan mendapat penanganan perilaku yang tepat.
Kriteria DSM-IV untuk Autisma Masa Kanak :
A.    Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3)
(1)  Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal-balik. Minimal harus ada 2 gejala dari gejala-gejala di bawah ini :
a.     Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, eksperesif muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju.
b.    Tak bisa bermain dengan teman sebaya.
c.     Tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
d.    Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal-balik.

(2). Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditunjukan oleh minimal satu dari gejala-gejala dibawah ini :
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang meniru.

(3)  Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku, minat, dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala di bawah ini :
a.     Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.
b.    Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistic atau rutinitas yang tak ada gunanya.
c.     Ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang.
d.    Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

B.    Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang :
a.                 Interaksi sosial
b.                Bicara dan berbahasa
c.                 Cara bermain yang kurang variatif

C.    Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak.
***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar