Minggu, 23 Juli 2017

Kata yang tak sempat terucap

Kamu bilang melihatku menangis saja kamu tak sanggup. 
Kamu bilang ketika aku terluka cukup panggil namamu, dan kamu akan mengobati luka itu sebisamu.

Lalu apa yang harus aku lakukan saat kamu lah dalang yang menyebabkan aku terluka dan menangis?

Memanggil namamu dan memperlihatkan kerapuhanku?
Atau memintamu mengobati luka yang kamu torehkan sementara kamu sendiri berbalik memunggungiku?

Bullshit.
Selama ini hanya omong kosong yang kamu lontarkan untukku.

Kamu.
Lelaki egois yang pernah aku kenal.
Lelaki keras kepala yang senang sekali mengatur.

Tapi aku suka.
Aku selalu suka saat kamu melarangku, itu berarti peduli kan?

Dan sekarang apa yang harus aku lakukan saat kamu memperlakukan perempuan lain layaknya kamu memperlakukanku?

Aku marah,tentu saja.

Aku terluka saat kamu memilih melepas ku tanpa alasan jelas.

Apa kamu tau?
Aku mencoba bertahan dengan sikapmu yang senang sekali mengatur. 
Aku mencoba terbiasa dengan sikapmu yang sering marah-marah tak jelas.
Aku mencoba menerimamu dengan segala predikat buruk yang kamu sandangi.

Cinta.
Aku mengenalmu sebagai lelaki yang empat tahun lalu memperjuangkanku mati-matian.
Aku mengenalmu sebagai lelaki yang serba bisa dan penuh perhatian.

Dan sekarang aku mengenalmu sebagai lelaki yang aku cinta.

Lelaki possesive yang sama sekali jauh dari kriteria-ku.

Namun takdir seakan ingin membalas perbuatanku di masa lalu.

Kamu berubah.

Bukan lagi lelaki baik-baik yang menobatkan dirinya sebagai sayap pelindungku.
Bukan lagi lelaki penuh pesona yang dulu selalu menungguku untuk memberi kejutan.

Kamu beda.

Menjadi lebih possesive dan bertanggung jawab.
Dan untuk itu, aku menaruh banyak harapan padamu.

Tapi mungkin aku lupa, kamu bukan lagi kamu yang dulu mengklaim diriku sebagai pusat hidupmu.

Karena sekarang kamu.
Lelaki yang mengumbar perhatiannya untuk banyak wanita.

Ini kisah ku dengan mu.

Aku.
Perempuan bodoh yang menaruh banyak harapan padamu.
Aku perempuan bodoh yang dibutakan kini tersakiti.


Luka itu belum mengering.
Masih menganga lebar dan aku tak berniat untuk menutupnya...

Akhir kata,

Terima kasih cinta.
Pernah mengulas senyum lalu menorehkan luka.

Terima kasih sayang...
Pernah membuat janji walaupun tak pernah menepati.

Terima kasih untuk luka yang kamu torehkan.
Jangan lupa bahagia,aku mencintaimu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar