Senin, 12 Januari 2015

Hujan menyimpan sejuta cerita kita.
Tetesnya merekam setiap serpihan kisah.
Disetiap embunnya tersimpan berbagai kenangan
Pelangi menggambarkan warna warni hidup kita.
Petir yang menggelegar mengisyaratkan betapa sakitnya kita.
Tak selamanya mendung itu sedih.
Tak Selamanya hujan itu menangis.
Tak selamanya pelangi akan selalu setia.
Tak selamanya petir berteriak.
Dan tak selamanya kisah kita abadi.
Kita seperti hujan. Kadang menangis saat mendung.
Kadang juga menangis saat cerah.
Kadang menangis hanya sebentar lalu berlalu.
Kadang menyapa lalu pergi lagi.
Dan kadang menghilang dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi.
Kita juga seperti pelangi.
Kadang merah saat menyerah.
Kadang kuning saat berhati hati.
Dan kadang,berubah menjadi hijau yang bersemangat.
Kita seperti petir.
Saat tak mampu menahan sakit,akan berteriak. Memberitahukan pada dunia,betapa rapuhnya kita.
Dan akan tenang saat mulai lelah dan berpikir untuk menyerah.
Tapi kemudian kembali berteriak. Saat seseorang datang mengusiknya.
Petir selalu membuat takut. Namun kenyataannya? Dia sedang memberitahukan keadaannya.
" Hidup memang selalu tak menentu. Kadang menangis,bahagia,bahkan kadang sakit.
Pertanyaannya  apa kita sanggup melewati jalan hidup yang tak menentu,atau malah menyerah? Jawablah sanggup! Sebab selama kamu percaya kepada tuhan. Tak ada yang mustahil. Mujizat itu nyata. " -- Jessica

Hitam

Hitam itu gelap. Seakan menggambarkan kekelaman. Aku benci hitam. Kamu tau kenapa? Hitam selalu jadi warna yang dipilih untuk mengiringi kematian.
Hitam Gelap. Dan aku takut kegelepan.
Hitam tidak termasuk warna dalam pelangi. Sedangkan aku menyukai pelangi.
Hitam selalu melambangkan kesedihan. Sedangkan aku lebih suka tersenyum
Aku benci hitam,hitam membuatku bosan.
Dia selalu muncul saat aku tengah asik mencoret. Padahalkan aku ingin mewarnai bukan malah membuat tinta hitam bertebaran diatas kertas putih.
Aku juga menyukai hitam.
Dia selalu menjadi teman baikku disekolah. Menemaniku saat aku bosan mendengar ocehan guru. Dia selalu menjadi obat di setiap kejenuhan.
Dan melalui dia,aku bisa melahirkan sebuah seni dan karya lukis.
" Terkadang Hitam memang melambangkan kesedihan,Kekelaman dan bahkan kegelapan.
Tapi,apakah kau tau? Saat kau menulis ia dengan senantiasa menyumbangkan warnanya untuk karyamu. Walaupun seringkali kamu tidak menyukaimu. " -- Jessica

Minggu, 11 Januari 2015

Memandang langit lepas

Aku duduk di hamparan rumput. Mengadahkan kepala ke atas,memandang ciptaan tuhan yang sangat indah. Di atas sana,langit biru dipadukan dengan awan putih. Cantik! Kesan pertama yang aku lihat. Kamu tau? Aku senang memandang langit lepas. Warnanya yang cerah melambangkan kesucian,kedamaian,dan juga sukacita.
Aku senang berlama lama disini. Melihat hamparan awan putih di atas langit. Mereka terlihat sangat senang dan tenang.
Kadang aku iri melihat indahnya langit. Mengapa ia begitu indah? Aku ingin menjadi langit. Yang selalu memancarkan aura kedamaian. Yang selalu tersenyum cerah seakan tak pernah ada beban disana. Selalu menjadi tempat singgahnya awan dan matahari. Ia begitu teduh. Menemani matahari yang sedang memancarkan cahaya,dan awan yang menari nari kesana kemari. Seakan tak pernah bosan dengan tugasnya.
Langit,apa kau tau?
Aku ingin sepertimu. Berwarna cerah dan selalu berada di atas.
Awan,apa kau tau?
Aku ingin berada diposisimu. Melambangkan kesucian dan bisa menari nari kemana saja.
Matahari,apa kau tau?
Aku ingin menjadi kamu. Yang selalu memancarkan cahaya,bersiap untuk menerangi bumi.
Langit,awan,dan matahari.
Apa kalian tau? Kalian begitu serasi di atas sana. Membuatku iri dan ingin berada di tengah tengah kalian.
" Tuhan,kau telah menghiasi bumi dengan begitu indah. Lalu? Apakah kau mau menghiasi hidupku menjadi lebih berwarna? "