Suara sirine ambulance,gemericik hujan,suara mesin pendeteksi degub jantung,
tetesan cairan infus,suara derap langkah kaki berbaur menjadi satu.
Tiiittt ..
Semua terpaku. Menatap nanar garis lurus yang terpampang nyata pada mesin pendeteksi degub jantung.
waktu seakan berhenti. Bersamaan dengan jiwa yang melayang meninggalkan raga.
Mata mulai bekerja,memproduksi air mata sebanyak-banyaknya.
bibir bergetar menahan isakan.
Tangan bergerak. Menggoncang goncang tubuh yang tak lagi bernyawa.
Berharap masih ada harapan.
" kumohon bangunlah. Ucapkan sesuatu."
Isakan,jeritan,dan teriakan bersatu menggema memenuhi ruangan.
Cinta ..
Dingin. Kaku. Pucat. Mati.
Cinta ..
andai saja mata kembali terbuka.
andai saja bibir kembali berucap.
andai saja kaki dapat bergerak.
andai saja tangan kembali menggapai.
andai saja telinga dapat mendengar.
INI MIMPI BURUK!!
Petir mulai menggelegar, awan kembali menangis lebih deras lagi.
Ini kenyataan.ia telah pergi untuk selama lamanya.
meninggalkan kenangan.
menggoreskan luka.dan menyayat hati.
Aku benci ini.
aku benci saat harus melewati kotak persegi panjang di tengah ruangan.
aku benci saat harus menenteng bunga dukacita.
aku benci saat lubang itu terbuka,dan ingin menyambutmu.
aku benci saat perlahan tanah tertimbun menyembunyikanmu diantaranya.
aku benci saat harus menabur bunga perpisahan.
dan aku benci saat harus melangkah meninggalkanmu sendiri disini. tempat peristirahatan terakhirmu.
Cinta..
Air mata kembali menetes saat kenangan kita kembali berputar.
Kaki tak sanggup menopang saat menyadari kamu tak akan kembali lagi.
aku ingin melawan takdir,menghapus kenyataan,dan membangunkanmu darisana.
Tapi.. apa daya? Aku tak bisa. dan akhirnya aku memilih diam dan menerima semuanya.
29january**--
Jessica's quote({})
Sabtu, 23 Mei 2015
Lelucon
Bukankah itu hanya sebuah lelucon?
Kenapa harus ada rasa marah?
Bukankah seharusnya tertawa? Dan inilah yang aku lakukan. Menertawakan diriku sendiri.
Memangnya,siapa yang harus aku tertawakan?
Bukankah ini kebodohanku kan?
Penyesalan itu datang menyerangku bertubi-tubi.
Meruntuhkan segala kepercayaan yang ada.
Menghancurkan segala kepercayaan diri untuk tampil dan menampakan diri di depannya.
Bukankah semua orang tak bisa ditebak? Apa kalian pikir,mulut harus selalu berkata jujur dan benar?
Pikiran dan mulut berbeda. Tak sama.
Sesederhana apapun mulut berbicara,disitulah pikiran sedang berpikir keras.
Kalau sudah begitu, apa ada alasan untukku menceritakan apapun yang terjadi dalam hidupku? Lalu ketika ceritaku mengundang ketertarikan. Semuanya mulai terumbar. Menciptakan lelucon. Mengundang tawa. Tak peduli pada seseorang yang sedang menahan malu.
Apa artinya lelucon? Membuat semua orang tertawa? Benarkah itu?
Ahh! Aku lupa.lelucon tak pernah memandang,apa yang terjadi selanjutnya.
Siapa yang tertawa dan siapa yang menangis.
Lalu ketika kalian tersadar ini semua salah.
Sejenis permintaan maaf,mulai meluncur.
Disitu aku tersadar.
" Kemarahan seorang murah senyum, Selalu dianggap lelucon. Cukup buat sebuah lelucon,dan ia akan memaafkan. "
Langganan:
Komentar (Atom)