Kenapa harus ada rasa marah?
Bukankah seharusnya tertawa? Dan inilah yang aku lakukan. Menertawakan diriku sendiri.
Memangnya,siapa yang harus aku tertawakan?
Bukankah ini kebodohanku kan?
Penyesalan itu datang menyerangku bertubi-tubi.
Meruntuhkan segala kepercayaan yang ada.
Menghancurkan segala kepercayaan diri untuk tampil dan menampakan diri di depannya.
Bukankah semua orang tak bisa ditebak? Apa kalian pikir,mulut harus selalu berkata jujur dan benar?
Pikiran dan mulut berbeda. Tak sama.
Sesederhana apapun mulut berbicara,disitulah pikiran sedang berpikir keras.
Kalau sudah begitu, apa ada alasan untukku menceritakan apapun yang terjadi dalam hidupku? Lalu ketika ceritaku mengundang ketertarikan. Semuanya mulai terumbar. Menciptakan lelucon. Mengundang tawa. Tak peduli pada seseorang yang sedang menahan malu.
Apa artinya lelucon? Membuat semua orang tertawa? Benarkah itu?
Ahh! Aku lupa.lelucon tak pernah memandang,apa yang terjadi selanjutnya.
Siapa yang tertawa dan siapa yang menangis.
Lalu ketika kalian tersadar ini semua salah.
Sejenis permintaan maaf,mulai meluncur.
Disitu aku tersadar.
" Kemarahan seorang murah senyum, Selalu dianggap lelucon. Cukup buat sebuah lelucon,dan ia akan memaafkan. "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar