Sabtu, 21 Februari 2015

sepenggal kisah

Suatu hari,aku bertemu dengannya.
Masih jelas di ingatanku,sosoknya yang memukau.
Lidahku jadi kelu,tanpa bisa berkata kata.
Iris coklatku bertemu dengan iris hitam pekat miliknya.
Ia tersenyum menampilkan lesung pipit miliknya.
" Stevano "
" Jessica "

Jumat, 20 Februari 2015

hujan

  Ditengah derasnya hujan, kita berlari kencang membelah angin seperti cheetah yang sedang mengejar mangsa.
Tak peduli dengan busana yang sudah basah kuyup,kita terus melaju dengan kencang tanpa takut ada bahaya yang mengancam.
Kita disini, membiarkan air hujan membasahi.
Membiarkan angin menerpa.
Membiarkan kedinginan yang terus menyergap tanpa henti.
Tak ada yang lebih menyenangkan dari bermain bersama tangisan awan.
Menari bersama anginpun menarik.
Hujan.
Aku selalu bersembunyi dibalik hujan.
Meluapkan segala amarah yang terpendam.
Mencurahkan tekanan yang amat menyiksa.
Dan menemani awan yang tak pernah berhenti menangis.
Aku bersyukur tuhan menciptakan hujan.
Karena jika aku menangis,aku tidak perlu bersembunyi dibalik selimut atau dibawah kolong untuk menyembunyikan kesedihan yang sedang aku rasa.
Ada saatnya aku harus sendiri,ditemani percikan air dan hembusan angin.

Tentang sebuah rasa

Semilir angin menerpa.
Hawa dingin mulai menusuk,menyeruak masuk melalui indera peraba
Haruskah berkata tidak,jika pada kenyataannya iya?
" Maaf ... " apa semua pria selalu meminta maaf setelah melakukan kesalahan? Lalu ketika
Kata memaafkan sudah mereka dapat. Mereka akan mengulangi - meminta maaf - dimaafkan - dan kembali mengulangi kesalahan yang sama,pengkhianatan.
" Lalu,kita? Kamu mau kita putus? " memiriskan! Kenapa kenyataan begitu menyakitkan?
" bukan itu yang aku inginkan. Aku cinta sama kamu,tapi aku ngga bisa lepas dari dia. " aku masih tak mengerti bagaimana bisa pengkhianatan terjadi saat rasa cinta masih ada.
" ini yang aku takutin,aku yang sulit jatuh cinta,ketemu sama kamu yang gampang jatuh cinta. Bahkan walaupun kamu menatakan cinta berulang kalipun aku tak akan percaya. " kepercayaan itu telah hancur dan mungkin butuh waktu lama untuk memperbaikinya.
Kenapa rasanya begitu menyakitkan? Dia yang kita percayai,orang yang kita sayang,bahkan cinta. Tega mengkhianati kita.
" aku cinta sama kamu. " Cihh! Bulshit!
" Kita putus. " mungkin sudah saatnya kita berhenti berkarya dalam dunia kita sendiri. Berhenti mengikat dalam suatu hubungan.
Kamu dengan duniamu dan aku dengan duniaku.
Terkadang aku bertanya, kenapa harus mencintai jika pada akhirnya akan terluka?
Apa setiap hubungan harus selalu ada pengkhianatan?
Kesetiaan bersembunyi dimana?
Kepercayaan kemana?
Bagaimana akhirnya nanti?
Bahagiakah,terlukakah, atau apa?
" kamu ngga mau ngasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya? " apa yang harus diperbaiki? Hati yang terluka, Kepercayaan yang telah hilang,atau kenyataan yang mungkin saja keliru?
" sudah cukup diskusi ini. Aku pergi. " haruskah berkata tetap tinggal saat hati telah berteriak meminta untuk segera diobati?
Aku pergi dan kisah kita berakhir sampai disini.

-- Pada akhirnya,yang setia akan pergi,ketika kesetiaannya tak lagi dihargai.

Kamis, 19 Februari 2015

aku benci

Langit menghitam berselimut kabut. Cahaya mulai meredup,menambah kesan keharuan yang tercipta, seakan merasakan apa yang sedang terjadi.
Aku benci suasana begini.
Aku benci saat garis lurus terpajang pada mesin pendeteksi jantung.
Aku benci saat teriakan teriakan penyesalan menggema memenuhi ruangan,Jeritan jeritan yang selalu membuatku merinding dan isak tangis yang semakin menyayat hati.
Aku benci saat guncanganku tak berhasil membangkitkan nyawa yang telah hilang.
Aku benci ketika harus kehilangan dan aku benci saat penyesalan datang menyergap.
Andai saja semua tak terjadi,andai saja ini hanya sebuah mimpi,andai saja mata itu dapat terbuka,andai saja jantung kembali berdetak.
Andai saja telinga kembali mendengar,andai saja kaki dapat melangkah,
Andai saja tangan mampu menggapai,andai saja bibir kembali berucap,
Andai saja kulit dapat merasakan, dan andai saja tak pernah ada yang terbaring dalam kotak persegi panjang.
Aku benci berandai-andai yang pada akhirnya berakhir dengan ketidakpastian.
Aku benci saat takdir harus menghadapkanku dengan kenyataan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Aku benci saat takdir mengharuskanku meneteskan air mata,meratapi,dan larut dalam kesedihan.
Aku benci saat sebuah peti terduduk manis diruang tengah,bersiap menyambut pendampingnya.
Aku benci saat bunga dukacita bertengger manis memamerkan keindahannya dan bersiap menjalankan tugas sebagai penghias.
Aku benci saat tangis yang mengiringimu ke rumah barumu.
Aku benci saat isakan semakin terdengar memilukan, kala lubang mulai tertimbun tanah.
Aku benci saat harus menabur bunga di atas timbunan tanah dan menancapka  anda pengenal dalam tanah.
Aku benci saat harus melangkah meninggalkanmu sendirian disini, ditempat peristirahatan terakhirmu.
Ketakutanku telah menjadi kenyataan!
Kau pergi dan tak akan kembali lagi!
Kau hilang dan mungkin tak akan pernah muncul lagi.
Dan kau tertidur untuk selamanya!