Jumat, 20 Februari 2015

Tentang sebuah rasa

Semilir angin menerpa.
Hawa dingin mulai menusuk,menyeruak masuk melalui indera peraba
Haruskah berkata tidak,jika pada kenyataannya iya?
" Maaf ... " apa semua pria selalu meminta maaf setelah melakukan kesalahan? Lalu ketika
Kata memaafkan sudah mereka dapat. Mereka akan mengulangi - meminta maaf - dimaafkan - dan kembali mengulangi kesalahan yang sama,pengkhianatan.
" Lalu,kita? Kamu mau kita putus? " memiriskan! Kenapa kenyataan begitu menyakitkan?
" bukan itu yang aku inginkan. Aku cinta sama kamu,tapi aku ngga bisa lepas dari dia. " aku masih tak mengerti bagaimana bisa pengkhianatan terjadi saat rasa cinta masih ada.
" ini yang aku takutin,aku yang sulit jatuh cinta,ketemu sama kamu yang gampang jatuh cinta. Bahkan walaupun kamu menatakan cinta berulang kalipun aku tak akan percaya. " kepercayaan itu telah hancur dan mungkin butuh waktu lama untuk memperbaikinya.
Kenapa rasanya begitu menyakitkan? Dia yang kita percayai,orang yang kita sayang,bahkan cinta. Tega mengkhianati kita.
" aku cinta sama kamu. " Cihh! Bulshit!
" Kita putus. " mungkin sudah saatnya kita berhenti berkarya dalam dunia kita sendiri. Berhenti mengikat dalam suatu hubungan.
Kamu dengan duniamu dan aku dengan duniaku.
Terkadang aku bertanya, kenapa harus mencintai jika pada akhirnya akan terluka?
Apa setiap hubungan harus selalu ada pengkhianatan?
Kesetiaan bersembunyi dimana?
Kepercayaan kemana?
Bagaimana akhirnya nanti?
Bahagiakah,terlukakah, atau apa?
" kamu ngga mau ngasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya? " apa yang harus diperbaiki? Hati yang terluka, Kepercayaan yang telah hilang,atau kenyataan yang mungkin saja keliru?
" sudah cukup diskusi ini. Aku pergi. " haruskah berkata tetap tinggal saat hati telah berteriak meminta untuk segera diobati?
Aku pergi dan kisah kita berakhir sampai disini.

-- Pada akhirnya,yang setia akan pergi,ketika kesetiaannya tak lagi dihargai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar