Langit menghitam berselimut kabut. Cahaya mulai meredup,menambah kesan keharuan yang tercipta, seakan merasakan apa yang sedang terjadi.
Aku benci suasana begini.
Aku benci saat garis lurus terpajang pada mesin pendeteksi jantung.
Aku benci saat teriakan teriakan penyesalan menggema memenuhi ruangan,Jeritan jeritan yang selalu membuatku merinding dan isak tangis yang semakin menyayat hati.
Aku benci saat guncanganku tak berhasil membangkitkan nyawa yang telah hilang.
Aku benci ketika harus kehilangan dan aku benci saat penyesalan datang menyergap.
Andai saja semua tak terjadi,andai saja ini hanya sebuah mimpi,andai saja mata itu dapat terbuka,andai saja jantung kembali berdetak.
Andai saja telinga kembali mendengar,andai saja kaki dapat melangkah,
Andai saja tangan mampu menggapai,andai saja bibir kembali berucap,
Andai saja kulit dapat merasakan, dan andai saja tak pernah ada yang terbaring dalam kotak persegi panjang.
Aku benci berandai-andai yang pada akhirnya berakhir dengan ketidakpastian.
Aku benci saat takdir harus menghadapkanku dengan kenyataan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Aku benci saat takdir mengharuskanku meneteskan air mata,meratapi,dan larut dalam kesedihan.
Aku benci saat sebuah peti terduduk manis diruang tengah,bersiap menyambut pendampingnya.
Aku benci saat bunga dukacita bertengger manis memamerkan keindahannya dan bersiap menjalankan tugas sebagai penghias.
Aku benci saat tangis yang mengiringimu ke rumah barumu.
Aku benci saat isakan semakin terdengar memilukan, kala lubang mulai tertimbun tanah.
Aku benci saat harus menabur bunga di atas timbunan tanah dan menancapka anda pengenal dalam tanah.
Aku benci saat harus melangkah meninggalkanmu sendirian disini, ditempat peristirahatan terakhirmu.
Ketakutanku telah menjadi kenyataan!
Kau pergi dan tak akan kembali lagi!
Kau hilang dan mungkin tak akan pernah muncul lagi.
Dan kau tertidur untuk selamanya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar